Swafoto dan KTP Masuk Gedung Picu Polemik

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 10 Januari 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Infografis/Aturan Baru KTP: Nama Tak Boleh 1 Kata & Tanpa Gelar/Arie Pratama

Foto: Infografis/Aturan Baru KTP: Nama Tak Boleh 1 Kata & Tanpa Gelar/Arie Pratama

Jakarta, iNBrita.com — Praktik meninggalkan kartu tanda penduduk (KTP) atau melakukan swafoto untuk memperoleh akses ke gedung perkantoran terus memicu polemik. Selain itu, para pakar menilai kebiasaan tersebut berpotensi melanggar Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).

Selama ini, banyak pengelola gedung menerapkan prosedur tersebut dengan alasan keamanan. Namun, di sisi lain, para ahli justru menilai cara itu tidak sejalan dengan prinsip dasar pelindungan data pribadi.

Permintaan KTP Tidak Memiliki Relevansi

Pertama, Peneliti Lembaga Studi & Advokasi Masyarakat (ELSAM) Parasurama Pamungkas menegaskan bahwa pengelola gedung tidak memiliki kebutuhan sah untuk meminta KTP atau foto wajah pengunjung.

Menurutnya, UU PDP secara jelas mewajibkan pengendali data mengumpulkan data secara terbatas, relevan, dan sesuai tujuan. Oleh karena itu, aktivitas masuk gedung tidak membutuhkan data pribadi sensitif.

“Ketika pengelola meminta KTP atau foto wajah tanpa relevansi, mereka melanggar prinsip pelindungan data pribadi,” ujar Parasurama.  Sabtu (10/1/2026).

Baca Juga :  Toyota Voxy Facelift 2026 Tampil Modern dan Canggih

Risiko Hukum bagi Pengelola Gedung

Selanjutnya, Parasurama menjelaskan bahwa persoalan hukum tidak hanya muncul saat pengumpulan data. Justru, risiko meningkat ketika pengelola menyimpan atau memanfaatkan data tersebut untuk tujuan lain.

Dalam kondisi itu, pengendali data kehilangan dasar hukum untuk melanjutkan pemrosesan data pribadi. Akibatnya, praktik tersebut berpotensi masuk kategori pelanggaran UU PDP.

“Jika sejak awal data tidak diperlukan, pengelola tidak memiliki hak untuk menyimpan atau menggunakannya,” tegasnya.

Lemahnya Pengawasan UU PDP

Sementara itu, Indonesia telah memiliki UU Pelindungan Data Pribadi sejak 2022. Namun, hingga kini, pemerintah belum membentuk lembaga pengawas pelindungan data pribadi.

Padahal, UU PDP mewajibkan pembentukan lembaga tersebut paling lambat 17 Oktober 2024. Oleh sebab itu, lemahnya pengawasan membuat praktik pengumpulan data berlebihan masih sering terjadi.

Privasi Harus Menjadi Prinsip Utama

Lebih jauh, Parasurama menekankan bahwa pengelola gedung perlu menerapkan sistem keamanan alternatif. Dengan demikian, pengelola tetap dapat menjaga keamanan tanpa mengorbankan privasi pengunjung.

Baca Juga :  Stok Beras Nasional Capai 5,37 Juta Ton Tertinggi

Selain itu, pengelola tidak boleh membatasi akses publik hanya karena seseorang menolak menyerahkan data pribadi.

“Privasi harus hadir secara default dan by design. Karena itu, pengelola gedung wajib menjamin keamanan tanpa memaksa warga menyerahkan data,” ujarnya.

Pakar Siber Ingatkan Ancaman Kebocoran

Di sisi lain, Pakar Keamanan Siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menyoroti aspek teknis keamanan data. Ia menegaskan bahwa KTP dan foto swafoto bukan alat identifikasi resmi yang diakui Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

Lebih penting lagi, Alfons menilai keamanan data sepenuhnya bergantung pada sistem pengelolaan. Jika pengelola tidak menerapkan standar keamanan yang kuat, risiko kebocoran data meningkat drastis.

“Ketika data bocor, dampaknya sangat serius. Identitas, foto, dan wajah dapat disalahgunakan, apalagi dengan teknologi AI yang semakin canggih,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Harga Pertamax Tahan, Konsumsi Pertalite Melonjak Tajam 2026
Prabowo Ekspor Satu Pintu, DSI Berlaku September 2026
Gunung Anak Krakatau Siaga, KSOP Perketat Pelayaran
Salah Transfer Bank Diduga Spasi Nomor Rekening Nasabah
Siswi SMAN 1 SolSel Tembus Nominasi Nasional Paskibraka
Aturan Kemasan Rokok Berisiko Tingkatkan Peredaran Ilegal.
Pemerintah Siapkan Skema Baru Biaya Haji 2027
TPG Juni 2026 Cair, Simak Jadwal dan Cara Pengecekan
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 19:00 WIB

Harga Pertamax Tahan, Konsumsi Pertalite Melonjak Tajam 2026

Senin, 20 Juli 2026 - 20:00 WIB

Prabowo Ekspor Satu Pintu, DSI Berlaku September 2026

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:00 WIB

Gunung Anak Krakatau Siaga, KSOP Perketat Pelayaran

Jumat, 3 Juli 2026 - 17:00 WIB

Salah Transfer Bank Diduga Spasi Nomor Rekening Nasabah

Kamis, 2 Juli 2026 - 22:00 WIB

Siswi SMAN 1 SolSel Tembus Nominasi Nasional Paskibraka

Berita Terbaru

Ilustrasi taubat. Simak tiga syarat utama agar taubat sah dan diterima menurut ulama. (freepik.com)

Khasanah

Syarat Shalat Taubat Agar Diterima Allah SWT Menurut Ulama

Rabu, 22 Jul 2026 - 04:00 WIB

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Kesehatan

Obesitas Tingkatkan Risiko Kanker Payudara pada Perempuan

Rabu, 22 Jul 2026 - 03:00 WIB

.Ilustrasi kode redeem Free Fire (FF) terbaru dengan berbagai hadiah gratis dari Garena.

Game

Kode Redeem Free Fire Terbaru 22 Juli 2026 Gratis

Rabu, 22 Jul 2026 - 02:00 WIB

Ilustrasi game penghasil saldo GoPay.

Teknologi

Aplikasi Penghasil Uang 2026 Cair ke DANA, Begini Caranya

Rabu, 22 Jul 2026 - 01:00 WIB

Bunga Agapanthus bermekaran dengan warna biru ( Foto Pexels)

Pendidikan

Cara Menanam Bunga Agapanthus agar Cepat Berbunga

Rabu, 22 Jul 2026 - 00:00 WIB