Jakarta – Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Sriwijaya, Jenderal Polisi (Purn) Muhammad Tito Karnavian, memaparkan arah tatanan dunia baru dalam orasi ilmiah “Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Indonesia Emas 2045” pada Dies Natalis ke-65 Universitas Sriwijaya (Unsri) di Palembang, Senin (3/11).
Tito menjelaskan bahwa peta kekuatan global kini berubah. Dunia tak lagi bergantung pada kekuatan militer, tetapi pada ekonomi, budaya, dan pengetahuan.
“Pertarungan utama sekarang adalah ekonomi, bukan militer,” kata Tito.
Ia menilai negara yang mampu memproduksi barang dan jasa secara masif serta menguasai rantai pasok global akan menjadi kekuatan dominan.
Mengutip pemikiran Prof. Sait Yilmaz, Tito menyebut empat faktor penentu kekuatan ekonomi: angkatan kerja besar, sumber daya alam melimpah, wilayah luas, dan letak geografis strategis.
“Indonesia punya posisi strategis di jalur vital dunia. Jika dimanfaatkan, posisi ini bisa memperkuat ekonomi nasional,” ujarnya.
Tito menilai hanya China, India, Amerika Serikat, Rusia, dan Indonesia yang memenuhi syarat menjadi kekuatan besar. Ia optimistis Indonesia bisa menjadi ekonomi keempat dunia pada 2045.
Namun, ia menekankan bahwa SDM unggul lebih penting daripada sumber daya alam.
“Negara maju karena SDM, bukan SDA. Bonus demografi 68,95% harus diarahkan lewat pendidikan,” tegasnya.
Tito mencontohkan Singapura yang maju karena investasi di pendidikan. Ia juga menilai program pendidikan dan kesehatan Presiden Prabowo Subianto, seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan beasiswa kedokteran, sudah sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Ia mendorong perguruan tinggi bertransformasi menjadi pusat inovasi dan riset.
“Perguruan tinggi harus jadi pemain utama dalam perubahan global,” ujarnya.
Dosen Hukum Internasional Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Triyana Yohanes, menilai pandangan Tito relevan dengan situasi dunia saat ini.
“Tito menekankan kekuatan pengetahuan dan ekonomi sebagai dasar hegemoni yang berkelanjutan,” katanya.
Triyana juga mengaitkan gagasan Tito dengan pandangan ekonom Ray Dalio, bahwa negara kuat harus memperkuat SDM, teknologi, dan tata kelola pemerintahan bersih.
“Pesan orasi Tito jelas: pemerintahan visioner dan bebas korupsi adalah kunci menuju Indonesia sebagai kekuatan dunia 2045,” pungkas Triyana.
(VVR*)














