Jakarta, iNBrita.com — Di dunia ini ada sebuah wilayah yang tidak diakui oleh negara mana pun, yaitu Bir Tawil. Kawasan gurun tersebut berada di antara Mesir dan Sudan.
Banyak orang mengenal Bir Tawil sebagai wilayah kosong yang dipenuhi pegunungan batu, gurun tandus, dan suhu yang sangat panas. Jurnalis John Elledge bahkan menyebut kawasan itu sebagai tempat yang nyaris tidak memiliki kehidupan dalam bukunya A History of the World in 47 Borders.
Lokasi Bir Tawil yang terpencil membuat akses menuju wilayah tersebut sangat sulit. Kawasan itu jauh dari jalan raya dan pusat transportasi. Bir Tawil juga tidak memiliki pemerintahan resmi, hukum negara, hotel, toko modern, maupun jaringan telepon.
Suku Ababda Sudah Lama Menghuni Bir Tawil
Meski banyak orang menyebut Bir Tawil tidak berpenghuni, kenyataannya suku Ababda telah lama tinggal di kawasan itu sejak masa Kekaisaran Romawi.
Peneliti dari Universitas Lancashire, Dean Karalekas, menemukan fakta tersebut saat mengunjungi Bir Tawil pada 2020. Ia melihat langsung kehidupan masyarakat yang menetap dan bekerja di kawasan gurun itu.
Karalekas menemukan berbagai perkemahan permanen dan aktivitas pertambangan emas yang berjalan aktif. Para penambang menggunakan peralatan sederhana seperti detektor logam hingga alat berat modern seperti ekskavator dan mesin pemisah mineral.
Kehidupan di Tengah Gurun Bir Tawil
Bir Tawil ternyata memiliki permukiman dan jalur utama yang cukup ramai. Warga membangun tempat tinggal dari seng dan kain bekas untuk bertahan di tengah cuaca ekstrem.
Masyarakat setempat juga menggunakan alat penukar uang dan bilik telepon sederhana untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Selain itu, kelompok keamanan lokal ikut menjaga kawasan tersebut.
Di beberapa bagian wilayah, terdapat wadi atau lembah bekas aliran sungai yang menghasilkan air ketika musim hujan datang. Keberadaan wadi membantu warga dan para penambang memenuhi kebutuhan air di tengah gurun.
Sengketa Perbatasan Mesir dan Sudan
Sengketa Bir Tawil bermula pada 1899 ketika Pemerintah Inggris dan Mesir menetapkan batas wilayah melalui Perjanjian Kondominium Anglo-Mesir.
Pada 1902, Inggris kembali menggambar batas administratif baru. Inggris memasukkan Bir Tawil ke wilayah Mesir karena suku Ababda menggunakan kawasan itu sebagai lahan penggembalaan ternak.
Di sisi lain, Inggris menempatkan Segitiga Hala’ib di bawah administrasi Sudan.
Setelah Sudan merdeka, pemerintah Sudan mengklaim Segitiga Hala’ib sebagai wilayahnya. Namun, Mesir menolak klaim tersebut dan tetap mengacu pada batas awal tahun 1899.
Akibatnya, Mesir menganggap Segitiga Hala’ib sebagai bagian wilayahnya, sedangkan Sudan menilai Bir Tawil masuk ke wilayah Mesir. Sampai sekarang, kedua negara belum menyelesaikan sengketa tersebut.
Banyak Orang Pernah Mengklaim Bir Tawil
Sejumlah orang pernah mencoba mengklaim Bir Tawil sebagai negara baru. Salah satu yang paling terkenal ialah Jeremiah Heaton.
Pada 2014, Heaton mendeklarasikan wilayah itu sebagai “Kerajaan Sudan Utara” untuk mewujudkan impian putrinya, Emily, yang ingin menjadi seorang putri.
Heaton kemudian mengibarkan bendera kerajaan, menobatkan dirinya sebagai kepala negara, dan berencana mengumpulkan dana sebesar 250 ribu dolar AS.
Namun, banyak orang mengecam tindakannya. Publik internasional menilai aksi tersebut sebagai bentuk imperialisme modern di abad ke-21.
(VVR*)









