Wabah Ebola di Afrika: Penyebaran dan Dampaknya

Wabah Ebola di Afrika: Penyebaran dan Dampaknya

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 01:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tenaga kesehatan menangani para korban wabah Ebola di Uganda pada 2022. (Getty Images)

Tenaga kesehatan menangani para korban wabah Ebola di Uganda pada 2022. (Getty Images)

Wabah Ebola di Kongo dan Uganda: Apa yang Terjadi?

Jakarta, iNBrita.com — Saat ini, wabah Ebola kembali melanda Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dan menimbulkan kekhawatiran serius di Afrika Tengah. Berdasarkan laporan pejabat kesehatan, penyakit ini telah menyebabkan sedikitnya 131 orang meninggal dunia, sementara petugas kesehatan menduga lebih dari 500 orang lainnya terinfeksi.

Selain itu, petugas kesehatan juga menemukan kasus di Uganda, termasuk beberapa kematian. Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan kondisi ini sebagai darurat kesehatan masyarakat berskala internasional, meskipun mereka belum menganggapnya sebagai pandemi global.

Apa itu Ebola?

Ebola adalah penyakit infeksi yang virus langkanya menyebabkan dampak sangat berbahaya. Pada dasarnya, ilmuwan menemukan penyakit ini pertama kali di Afrika pada tahun 1976.

Sementara itu, para peneliti mengidentifikasi wabah saat ini sebagai infeksi yang berasal dari galur Bundibugyo, salah satu varian virus Ebola.

Pada umumnya, Ebola menular ketika seseorang melakukan kontak langsung dengan cairan tubuh penderita yang terinfeksi, seperti:

  • darah
  • muntah
  • urin
  • keringat
Baca Juga :  Hentikan Gula, Tubuh Langsung Mengalami Banyak Perubahan

Namun demikian, virus ini tidak menyebar melalui udara seperti flu biasa. Sebaliknya, manusia menularkannya saat terjadi kontak dekat tanpa perlindungan.

Gejala Ebola

Biasanya, gejala muncul dalam waktu 2–21 hari setelah seseorang terinfeksi. Pada tahap awal, penderita mengalami gejala mirip flu, seperti:

  • demam
  • sakit kepala
  • nyeri otot
  • kelelahan

Kemudian, kondisi penderita berkembang menjadi lebih parah, sehingga mereka mengalami:

  • muntah dan diare
  • ruam kulit
  • kegagalan fungsi organ
  • perdarahan internal maupun eksternal

Dari segi risiko, Ebola menyebabkan kematian pada sekitar 30–50% penderita, tergantung pada jenis wabahnya. Selain itu, hingga saat ini ilmuwan belum menemukan obat atau vaksin khusus untuk galur Bundibugyo.

Meskipun begitu, peneliti telah mengembangkan vaksin untuk beberapa varian lain, seperti galur Zaire, dan vaksin tersebut hanya bekerja pada jenis tertentu.

Penyebaran saat ini

Saat ini, wabah menyebar di beberapa wilayah RD Kongo, seperti:

  • Bunia
  • Mongwalu
  • Rwampara

Lebih lanjut, petugas kesehatan juga mendeteksi kasus di Kinshasa dan di Uganda.

Baca Juga :  Jalan Kaki Rutin Turunkan Risiko Kanker Pencernaan

Akibatnya, WHO memperingatkan risiko penyebaran regional karena beberapa faktor, seperti:

  • mobilitas penduduk yang tinggi
  • konflik dan ketidakstabilan keamanan
  • fasilitas kesehatan yang terbatas
  • kepadatan penduduk di wilayah perkotaan?

Namun demikian, WHO menegaskan bahwa kondisi ini bukan pandemi seperti COVID-19. Sebaliknya, mereka menilai risiko global masih rendah.

Akan tetapi, mereka tetap menilai risiko regional di Afrika sebagai serius dan perlu penanganan cepat.

Secara umum, ilmuwan menduga virus Ebola berasal dari hewan liar, terutama kelelawar pemakan buah. Virus ini kemudian berpindah ke manusia ketika manusia melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi.

Kesimpulan

Sebagai penutup, wabah Ebola masih terkonsentrasi di Afrika Tengah, tetapi tetap menimbulkan ancaman serius karena tingkat kematian yang tinggi dan potensi penyebaran lintas wilayah.

Oleh sebab itu, WHO terus mendorong pemerintah setempat untuk meningkatkan pengawasan, mengisolasi pasien, dan memperkuat kerja sama internasional agar wabah tidak menyebar lebih luas.

(eny)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lima Kebiasaan yang Memicu Penumpukan Kalsium pada Jantung
Penderita GERD Tetap Bisa Diet, Begini Pola Makannya
Karang Gigi Sulit Hilang, Ini Alasan dan Solusinya
Gejala ISPA Akibat Kabut Asap yang Wajib Diwaspadai
Budi Gunadi Pastikan Tarif BPJS Kesehatan Tidak Naik
Tanda Kekurangan Kalsium yang Sering Tidak Disadari
Obesitas Tingkatkan Risiko Kanker Payudara pada Perempuan
Minum Kopi Rutin Turunkan Risiko Penyakit Hati Kronis
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:00 WIB

Lima Kebiasaan yang Memicu Penumpukan Kalsium pada Jantung

Jumat, 28 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Penderita GERD Tetap Bisa Diet, Begini Pola Makannya

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:00 WIB

Karang Gigi Sulit Hilang, Ini Alasan dan Solusinya

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Gejala ISPA Akibat Kabut Asap yang Wajib Diwaspadai

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 20:00 WIB

Budi Gunadi Pastikan Tarif BPJS Kesehatan Tidak Naik

Berita Terbaru

Ilustrasi pengguna membuka fitur DANA Kaget melalui aplikasi dompet digital DANA. ( Foto AI)

Teknologi

DANA Kaget September Kembali Diburu, Begini Cara Klaim

Selasa, 1 Sep 2026 - 13:00 WIB

ASN Diskominfosta Kota Sungai Penuh menjalankan Program 3S untuk mendukung penanganan stunting.

SUNGAI PENUH

Diskominfosta Sungai Penuh Perkuat Program 3S Cegah Stunting

Selasa, 1 Sep 2026 - 13:00 WIB

Kunjungan Tim Penggerak PKK Kota Sungai Penuh ke SMPN 8 Sungai Penuh dalam kegiatan Program 3S.

SUNGAI PENUH

SMPN 8 Sungai Penuh Terus Dukung Program 3S

Selasa, 1 Sep 2026 - 12:00 WIB

Gerhana Matahari (AP Photo/Esteban Felix)

Internasional

September 2026 Hadirkan Fenomena Langit yang Memukau

Selasa, 1 Sep 2026 - 11:00 WIB

Ketua DPRD Hutri Randa menghadiri Wisuda STIA-NUSA Sungai Penuh.

SUNGAI PENUH

Ketua DPRD Hutri Randa Hadiri Wisuda STIA-NUSA Sungai Penuh

Senin, 31 Agu 2026 - 17:00 WIB