Peningkatan Kasus Malaria Knowlesi di Indonesia
Jakarta, iNBrita.com — Kasus malaria knowlesi di Indonesia menunjukkan peningkatan hingga April 2026. Dalam situasi ini, Provinsi Aceh mencatat jumlah kasus paling tinggi dibandingkan wilayah lain. Oleh karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (Ikatan Dokter Anak Indonesia) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang tinggal atau sering beraktivitas di sekitar kawasan hutan dan wilayah dengan tutupan vegetasi tinggi.
Temuan Kasus Malaria di Lapangan
Dokter spesialis anak konsultan infeksi dan penyakit tropik IDAI, dr. Inke Nadia Diniyanti Lubis, menyampaikan hasil pemantauan kasus di berbagai daerah. Petugas kesehatan mencatat sekitar 79 kasus .
Selain itu, petugas di lapangan juga menemukan bahwa Kabupaten Aceh Jaya menyumbang jumlah kasus yang cukup besar. Hingga April 2026, daerah tersebut melaporkan sekitar 30 kasus, sehingga wilayah ini menjadi salah satu pusat perhatian dalam pengendalian penyakit tersebut. Dengan demikian, tenaga kesehatan terus memperkuat pelaporan dan deteksi dini di daerah rawan.
Faktor Lingkungan dan Perubahan Habitat.
Dengan kondisi tersebut, manusia semakin sering memasuki wilayah hutan yang sebelumnya menjadi habitat alami satwa liar. Akibatnya, interaksi antara manusia, monyet, dan nyamuk vektor penyakit menjadi lebih sering terjadi. Oleh karena itu, risiko penularan malaria knowlesi ikut meningkat seiring dengan perubahan ekosistem tersebut.
Mekanisme Penularan Penyakit. Meskipun demikian, masyarakat lebih mengenalnya sebagai “malaria monyet” karena peneliti pertama kali menemukan parasit ini pada primata liar.
Namun demikian, penularan penyakit ini tidak terjadi secara langsung dari monyet ke manusia. Sebaliknya, nyamuk dari kelompok Anopheles leucosphyrus berperan sebagai perantara utama dalam penyebaran penyakit. Nyamuk tersebut terlebih dahulu menggigit monyet yang telah terinfeksi parasit, kemudian membawa parasit tersebut dan menularkannya kepada manusia melalui gigitan berikutnya.
Dengan demikian, rantai penularan sangat bergantung pada keberadaan vektor nyamuk serta interaksi manusia dengan lingkungan yang menjadi habitatnya.
Gejala Klinis dan Perkembangan Penyakit
Sementara itu, pasien yang terinfeksi malaria knowlesi menunjukkan gejala yang mirip dengan malaria pada umumnya. Pasien biasanya mengalami demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta kelemahan tubuh yang cukup berat.
Namun demikian, tenaga medis menekankan bahwa malaria knowlesi memiliki karakteristik khusus karena dapat berkembang dengan sangat cepat menjadi kondisi yang berat. Jika petugas kesehatan terlambat menangani pasien, maka penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gagal ginjal, gangguan pernapasan, dan penurunan fungsi organ lainnya. Oleh sebab itu, deteksi dini dan penanganan cepat menjadi faktor penting dalam menurunkan risiko kematian.
Upaya Pencegahan dan Imbauan Kesehatan
Oleh karena itu, IDAI mengimbau masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di area perkebunan, hutan, dan wilayah terpencil untuk meningkatkan perlindungan diri. Petugas kesehatan juga mendorong masyarakat agar lebih disiplin dalam menerapkan langkah pencegahan sederhana namun efektif.
Sebagai langkah utama, masyarakat dapat menggunakan pakaian berlengan panjang dan celana panjang untuk mengurangi paparan kulit terhadap gigitan nyamuk. Selain itu, masyarakat juga dapat menggunakan losion anti-nyamuk secara rutin, terutama saat berada di luar ruangan pada sore dan malam hari.
Di samping itu, masyarakat juga perlu menghindari aktivitas di luar ruangan pada waktu nyamuk paling aktif, yaitu pada malam hari dan menjelang dini hari.
(eny)









