Jakarta, iNBrita.com – Pasar tetap optimistis terhadap pergerakan harga emas di zona hijau, meski menghadapi koreksi jangka pendek. Kenaikan harga minyak mendorong inflasi dan meningkatkan ekspektasi suku bunga global.
Optimisme Harga Emas Masih Kuat
Mengutip Kitco News, Jumat (10/4/2026), analis komoditas dari State Street Investment Management yang dipimpin Aakash Doshi memperkirakan harga emas masih berpeluang naik. Mereka menilai peluang harga emas mencapai US$ 4.750 hingga US$ 5.500 per troy ons mencapai 50% hingga akhir tahun.
Proyeksi Disesuaikan, Tetap Positif
Di sisi lain, perusahaan tersebut menyesuaikan proyeksi optimistisnya. Para analis menurunkan peluang harga emas mencapai US$ 5.500 hingga US$ 6.250 per troy ons dari 35% menjadi 30%. Meski begitu, mereka tetap melihat prospek jangka panjang yang positif.
Level Bawah dan Potensi ATH
Para analis memperkirakan harga emas di kisaran US$ 4.000 hingga US$ 4.100 per troy ons akan menjadi batas bawah pasar. Mereka juga menilai harga tertinggi sepanjang masa (ATH) masih berpeluang diuji kembali hingga tahun 2027.
Sentimen Global Picu Konsolidasi
State Street menjelaskan bahwa aksi jual pada bulan lalu dan fase konsolidasi saat ini merupakan hal yang wajar. Pergeseran sentimen pasar global, terutama akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran, turut memengaruhi pergerakan harga emas.
Fokus pada Tren Jangka Panjang
Para analis menyarankan investor untuk tetap fokus pada tren jangka panjang. Mereka menilai faktor fundamental jangka panjang lebih penting dibandingkan ekspektasi suku bunga dalam jangka pendek.
Dampak Suku Bunga dan Dolar AS
Mereka menjelaskan bahwa koreksi harga emas pada bulan Maret dipicu oleh penyesuaian suku bunga The Fed dan tingginya imbal hasil riil. Kondisi ini memperkuat dolar AS dan menekan harga emas sementara waktu.
Faktor Struktural Tetap Mendukung
Meski begitu, para analis menilai penurunan tersebut bukan akibat melemahnya permintaan emas global. Kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang serta pergeseran ke alternatif selain mata uang fiat tetap mendukung permintaan emas.
Investor Diminta Tetap Waspada
Karena itu, analis mengingatkan investor untuk mewaspadai tekanan siklus, terutama meningkatnya biaya peluang memegang emas akibat imbal hasil riil yang tinggi. Namun, mereka tetap menilai faktor struktural jangka panjang memberikan prospek positif bagi emas.
(VVR*)









