Seni Gua Tertua Dunia Ditemukan di Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cetakan tangan kuno di dinding gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Indonesia, diperkirakan berusia minimal 67.800 tahun, menjadi seni gua tertua yang ditemukan di dunia.

Cetakan tangan kuno di dinding gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Indonesia, diperkirakan berusia minimal 67.800 tahun, menjadi seni gua tertua yang ditemukan di dunia.

Jakarta, iNBrita.com — Puluhan ribu tahun lalu, seorang manusia di wilayah yang kini menjadi Indonesia meninggalkan jejak kreativitasnya di dinding gua. Ia membentuk gambar dari goresan tanah liat, yang kini para ilmuwan yakini sebagai seni gua tertua di dunia.

Sebuah studi terbaru dari tim peneliti Australia dan Indonesia menyimpulkan bahwa karya seni ini berusia minimal 67.800 tahun. Penelitian tersebut terbit hari ini di jurnal Nature. Usia ini membuatnya sekitar 1.000 tahun lebih tua dibandingkan seni gua sebelumnya di Spanyol, yang berasal dari era Neanderthal.

“Ini adalah bukti tertua yang pernah kita temukan tentang manusia yang menciptakan seni gua dalam bentuk apa pun,” kata Adam Brumm, salah satu penulis utama studi tersebut.
“Lokasinya berada tepat di gerbang menuju Australia.”

Brumm, arkeolog dari Universitas Griffith, menjelaskan bahwa lokasi penemuan ini penting untuk memahami kapan manusia pertama kali menuju Australia. Menurutnya, jika manusia sudah berada di wilayah ini hampir 68.000 tahun lalu dan mampu menciptakan seni, maka bukti kehadiran manusia di Australia sekitar 65.000 tahun lalu sangat mungkin benar.

Meski begitu, para peneliti masih membutuhkan bukti pendukung lain, seperti tulang manusia atau sisa perapian, untuk memastikan bahwa manusia benar-benar menetap di wilayah tersebut pada masa itu.

Dinding gua yang sangat tua

Para peneliti menemukan seni gua kuno ini di Liang Metanduno, sebuah gua batu kapur di Pulau Muna, Indonesia. Selama ini, gua tersebut dikenal sebagai objek wisata karena lukisan guanya yang berusia sekitar 4.000 tahun.

Namun, di balik lukisan-lukisan yang lebih muda—termasuk gambar ayam—para peneliti menemukan karya seni yang jauh lebih tua.

Baca Juga :  Trump Ancam Tarif 100% Kanada Jika Perdagangan China

Seni tersebut berupa dua cetakan tangan samar. Salah satunya berusia minimal 60.900 tahun, sementara yang lain memecahkan rekor dengan usia minimal 67.800 tahun.

Pada masa itu, dunia berada di zaman es terakhir. Permukaan laut jauh lebih rendah, sehingga banyak pulau di Indonesia saling terhubung. Pulau Muna bahkan menyatu dengan Sulawesi.

Meski sebagian besar lukisan telah terkikis oleh waktu, para peneliti menggunakan pemindaian digital dan teknik khusus untuk menampakkan kembali bentuk cetakan tangan tersebut.

Manusia purba membuat cetakan tangan ini dengan menempelkan tangan ke dinding gua, lalu meniup atau mengoleskan pigmen merah alami yang disebut oker. Setelah tangan diangkat, tersisa siluetnya di permukaan batu.

Yang membuat temuan ini unik, para pembuatnya kembali memodifikasi cetakan tersebut. Mereka memposisikan ulang tangan dan mengoleskan oker tambahan untuk membentuk jari-jari yang lebih ramping, menyerupai cakar. Teknik seperti ini jarang ditemukan di wilayah lain.

Tim peneliti juga menemukan cetakan tangan yang lebih muda dengan gaya serupa di gua-gua lain di sekitar Sulawesi.

Cara menentukan usia seni gua

Untuk mengetahui usia lukisan, para peneliti meneliti endapan kalsium karbonat yang terbentuk di atas seni tersebut, seperti stalaktit dan stalagmit.

Menurut Brumm, menentukan usia seni cadas memang sulit. Namun, gua batu kapur menyediakan kondisi ideal karena endapan mineralnya bisa membantu proses penanggalan.

“Manusia purba membuat seni gua, lalu alam secara perlahan membentuk lapisan batu di atasnya,” jelasnya.
“Lapisan itulah yang memberi kita petunjuk usia karya seni tersebut.”

Baca Juga :  Ciptakan Suasana Romantis: Al Azhar Makan Bersama Ribuan Pendukung

Karena endapan ini terbentuk setelah lukisan dibuat, para peneliti hanya bisa menentukan usia minimum. Artinya, lukisan tersebut bisa saja lebih tua dari angka yang tercatat.

“Ada kemungkinan usianya sedikit lebih tua,” kata Maxime Aubert, peneliti senior lainnya.

Menguatkan teori kedatangan awal manusia ke Australia

Hingga kini, para arkeolog belum menemukan banyak bukti fisik keberadaan manusia purba di Sulawesi dari periode yang sama, seperti tulang atau alat batu.

Susan O’Connor, arkeolog dari Australian National University yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menyebut bahwa meski model migrasi menunjukkan jalur dari Kalimantan ke Sulawesi hingga Papua sebagai rute paling masuk akal, bukti arkeologinya masih terbatas.

Karena kurangnya bukti, sebagian peneliti sebelumnya memperkirakan manusia baru tiba di Australia sekitar 50.000 tahun lalu, bukan 65.000 tahun.

Namun, temuan seni gua ini menunjukkan bahwa manusia sudah berada di wilayah tersebut setidaknya sejak 68.000 tahun lalu. Fakta ini memperkuat teori bahwa manusia tiba di Australia tidak lama setelahnya.

Menurut O’Connor, penelitian ini membantu menyelaraskan waktu awal keberadaan manusia di Indonesia dan Australia. Ia menegaskan bahwa lukisan di Sulawesi ini merupakan bukti tertua ekspresi kreatif manusia di dunia, bahkan lebih tua dari seni gua Neanderthal di Spanyol.

Tim peneliti kini terus melanjutkan eksplorasi di wilayah tersebut. Mereka yakin masih banyak seni cadas lain yang belum terungkap.

“Ada sesuatu yang istimewa di kawasan ini,” kata Aubert.
“Manusia pada masa itu sudah sangat maju, dan kami yakin masih banyak karya seni batu yang menunggu untuk ditemukan.”

(Ven*)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BGN Hentikan Penyaluran MBG, Anggaran Hemat Rp3 Triliun.
Hotel Sultan Dieksekusi Besok, PPKGBK Tutup Akses GBK
Resmi Tangani Persija Shin Tae-yong Siap Rebut Juara
Waspada! Penipuan Berkedok Nonton Dracin Makin Marak
Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap Stabil
KPK Lelang Barang Mewah Koruptor Eks Sekda Pekanbaru
BGN Pangkas Anggaran MBG Tanpa Kurangi Penerima Manfaat
Indonesia Terpilih Uji Coba Logo Kemasan Pakai Ulang
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 05:00 WIB

BGN Hentikan Penyaluran MBG, Anggaran Hemat Rp3 Triliun.

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:00 WIB

Hotel Sultan Dieksekusi Besok, PPKGBK Tutup Akses GBK

Senin, 8 Juni 2026 - 21:00 WIB

Resmi Tangani Persija Shin Tae-yong Siap Rebut Juara

Sabtu, 6 Juni 2026 - 20:00 WIB

Waspada! Penipuan Berkedok Nonton Dracin Makin Marak

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:00 WIB

Harga BBM dan LPG Subsidi Dipastikan Tetap Stabil

Berita Terbaru

Ilustrasi kanker tiroid dan gejalanya pada leher.(Dok. Mayapada Hospital)

Kesehatan

Teranostik Bantu Diagnosis Kanker Tiroid Lebih Presisi

Senin, 22 Jun 2026 - 06:00 WIB

Bupati Monadi menghadiri Kenduri Sko Belui 2026 dan mengajak masyarakat menjaga adat serta melestarikan budaya Kerinci. ( Foto Kerinci Satu)

KERINCI

Bupati Monadi Hadiri Kenduri Sko Tigo Luhah Belui.

Senin, 22 Jun 2026 - 05:00 WIB

Foto: Getty Images/iStockphoto/joxxxxjo

Khasanah

Hukum Menuduh Zina Tanpa Bukti Menurut Islam

Senin, 22 Jun 2026 - 04:00 WIB

Ilustrasi kode redeem Free Fire terbaru. ( Foto Ai)

Game

Klaim Kode Redeem FF Terbaru 22 Juni 2026

Senin, 22 Jun 2026 - 03:00 WIB

Ilustrasi aplikasi DANA pada ponsel pintar. (Foto: AI/ChatGPT).

Teknologi

11 Aplikasi Penghasil Uang Terbukti Membayar ke DANA

Senin, 22 Jun 2026 - 02:00 WIB