Jakarta, iNBrita.com – Istilah “superflu” atau influenza H3N2 varian Subclade K menjadi sorotan setelah virus ini merebak cepat di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris. Banyak orang mempertanyakan alasan varian ini tampak lebih agresif dan mudah menular dalam waktu singkat.
Dokter spesialis paru RS Paru Persahabatan, Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa Subclade K merupakan hasil mutasi dari virus influenza yang sudah ada. Mutasi tersebut membuat virus memiliki karakteristik yang berbeda dari flu musiman pada umumnya.
Menurut Prof Agus, Subclade K tetap termasuk influenza musiman jenis Influenza A (H3N2). Namun, mutasi yang terjadi membuat virus ini memiliki beberapa sifat baru yang membedakannya dari influenza biasa.
Varian ini menyebar lebih cepat karena faktor biologis virus yang lebih agresif saat menginfeksi manusia. Virus Subclade K bereplikasi lebih cepat di saluran napas, sehingga menghasilkan jumlah virus yang lebih banyak.
Selain itu, varian ini juga membawa viral load yang lebih tinggi di saluran napas atas, sehingga meningkatkan risiko penularan antarindividu.
Prof Agus menambahkan bahwa mutasi pada Subclade K juga membuat virus ini lebih resisten terhadap vaksin flu yang ada saat ini.
Terkait istilah yang beredar di masyarakat, Prof Agus menegaskan bahwa “superflu” bukan istilah medis. Masyarakat menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan flu yang lebih agresif, mudah menular, dan menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan flu biasa.
(Tim*)














