Perjalanan Indonesia Menuju Biennale Venesia 2026
Jakarta, iNBrita.com — Direktur Artistik Bumi Purnati Indonesia, Restu Kusumaningrum, mengungkap perjalanan panjang yang mengantarkan dua karya teater Indonesia tampil di La Biennale di Venezia 2026. Bumi Purnati membangun jaringan internasional selama hampir 25 tahun untuk memperkenalkan seni dan budaya Indonesia ke berbagai negara.
Restu menilai dunia internasional masih menganggap Indonesia sebagai “blank spot” atau wilayah yang kurang terlihat di panggung seni global. Karena itu, ia terus mendorong kehadiran Indonesia dalam berbagai festival internasional.
“Suatu hari saya menerima telepon. Mereka bertanya mengapa India, Jepang, Rwanda, hingga Afrika Selatan bisa hadir di Italia, sementara Indonesia belum. Dari situ saya merasa Indonesia juga harus tampil,” ujar Restu di Kediaman Duta Besar Italia di Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026).
Kejar Tenggat Pendaftaran Festival
Restu hanya memiliki waktu 24 jam untuk menyiapkan teaser, foto pertunjukan, dan berbagai materi pendaftaran yang harus ia kirim kepada kurator serta direktur artistik festival. Ia berhasil mengirim seluruh dokumen dua jam sebelum tenggat waktu berakhir.
“Dua hari kemudian mereka kembali menelepon dan menyampaikan bahwa Indonesia lolos. Setelah itu kami menjalin komunikasi selama hampir enam bulan sebelum mulai mengumpulkan aktor dan musisi,” katanya.
Restu kemudian terbang ke Venesia untuk menghadiri konferensi pers festival dan menyaksikan langsung pengumuman program Biennale Venesia 2026. Dalam kesempatan itu, Willem Dafoe mengumumkan dua karya Indonesia, yakni Under the Volcano dan Hikayat Perahu/The Tale of Boat, sebagai bagian dari program festival.
Budaya Melayu Tarik Perhatian Kurator
Restu menilai tema “Alter-Native” yang diusung Biennale Venesia 2026 selaras dengan kekayaan budaya Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki gerak tari, musik, dan spiritualitas yang mampu menawarkan perspektif baru bagi dunia internasional.
“Indonesia punya gerakan, tarian, dan spiritualitas sendiri yang hadir di waktu yang tepat. Mengapa tidak kita menawarkan alternatif bagi Eropa, Amerika, dan negara lain melalui budaya kita,” ujarnya.
Sebelumnya, Restu mengirim empat proposal karya kepada pihak festival. Namun, kurator akhirnya memilih Under the Volcano dan Hikayat Perahu/The Tale of Boat karena kedua karya itu merepresentasikan budaya Melayu yang jarang tampil di panggung internasional.
“Kalau budaya Jawa dan Bali mungkin sudah sering dikenal dunia. Tetapi ketika mereka melihat Hikayat Perahu dan Under the Volcano yang merepresentasikan budaya Melayu, itu menjadi sesuatu yang berbeda dan tidak biasa,” kata Restu.
(eny)









