Jakarta, iNBrita.com — Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi sebuah insiden yang melibatkan kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Kapal tersebut membawa awak berkewarganegaraan China. Otoritas China terus mengumpulkan informasi untuk memastikan sumber serangan yang terjadi.
Juru bicara Kemlu China, Lin Jian, menyampaikan keterangan resmi di Beijing. Ia menjelaskan bahwa kapal itu berbendera Kepulauan Marshall. Ia juga menegaskan bahwa beberapa warga negara China berada di atas kapal saat insiden berlangsung. Hingga kini, pihaknya belum menerima laporan korban jiwa.
Sebelumnya, media China Caixin melaporkan insiden pada 4 Mei. Media itu menyebut kapal tanker milik China mengalami kebakaran di bagian dek. Awak kapal melaporkan kejadian itu saat kapal melintas di jalur Selat Hormuz.
Kemudian, laporan tersebut kembali mencuat ke publik pada 7 Mei. Media menyoroti tanda “CHINA OWNER & CREW” pada kapal tersebut. Tanda itu menunjukkan kepemilikan dan komposisi awak kapal.
Sumber keamanan maritim mengidentifikasi kapal yang terlibat sebagai JV Innovation. Sumber itu menjelaskan bahwa kapal tersebut mengirim laporan kebakaran ke kapal lain di sekitar lokasi.
Tim keamanan maritim memetakan lokasi kejadian di dekat Mina Saqr, Uni Emirat Arab. Mereka terus memeriksa data pelayaran untuk memastikan kronologi insiden secara lebih akurat.
Selat Hormuz Tetap Jadi Jalur Strategis
Selat Hormuz memegang peran penting dalam perdagangan energi dunia. Jalur ini menghubungkan produsen minyak utama dengan pasar global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati wilayah ini pada kondisi normal.
Namun, konflik regional yang meningkat mengganggu aktivitas pelayaran. Kapal-kapal menghadapi risiko lebih tinggi saat melintasi kawasan tersebut. Situasi ini mendorong peningkatan kewaspadaan dari berbagai pihak.
Teknisi kapal, Liu Haining, memberikan keterangan terkait insiden tersebut. Ia baru saja meninggalkan kapal sebelum kejadian melalui sistem rotasi awak.
Ia menjelaskan bahwa tim di kapal belum dapat memastikan sumber serangan. Ia menyebut kemungkinan penggunaan berbagai senjata, seperti drone atau peluru artileri. Namun, ia menegaskan bahwa tim masih mengumpulkan bukti.
Selain itu, ia menambahkan bahwa kapal tetap beroperasi setelah insiden terjadi. Ia juga menyebut kapal tidak bergerak saat kejadian berlangsung. Kondisi ini membuat penyelidik mempertimbangkan berbagai skenario, termasuk kemungkinan kecelakaan teknis.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Otoritas terkait terus menyelidiki insiden ini dari berbagai aspek. Mereka mengumpulkan data pelayaran, laporan awak kapal, dan informasi keamanan maritim. Hingga kini, mereka belum menetapkan pelaku maupun penyebab pasti.
Dengan demikian, insiden di Selat Hormuz ini masih menyisakan banyak pertanyaan. Para pihak terkait terus bekerja untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik peristiwa tersebut.
(eny)









