Jakarta, iNBrita.com – Gaya hidup dan pola makan tidak sehat dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker ginjal. Para ahli mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi ultra-processed food (UPF), makanan berpengawet, serta produk tinggi pemanis guna menjaga kesehatan tubuh.
Lalu, seberapa besar pengaruh gaya hidup terhadap munculnya kanker ginjal pada usia dewasa?
Gaya Hidup Dapat Memicu Mutasi Sel Penyebab Kanker Ginjal
Konsultan hematologi anak, dr Nur Melani Sari, SpA, Subsp.HO(K), menjelaskan bahwa kanker pada orang dewasa biasanya muncul dari sel tubuh yang awalnya normal, lalu mengalami perubahan atau mutasi. Berbagai faktor gaya hidup dapat memicu proses mutasi tersebut.
“Pada orang dewasa, sel yang awalnya normal bisa mengalami mutasi akibat berbagai faktor gaya hidup,” jelasnya dalam seminar media yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara daring bertema Kanker Ginjal pada Anak, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, kebiasaan hidup yang kurang sehat dapat mempercepat proses perubahan sel tersebut. Pola makan tinggi makanan olahan, konsumsi makanan dengan pengawet dan pemanis berlebih, hingga hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko tersebut.
Meski kebiasaan itu tidak selalu secara langsung memicu kanker ginjal, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti obesitas, hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Dalam jangka panjang, beberapa penyakit tersebut juga dapat meningkatkan risiko kanker ginjal.
Karena itu, masyarakat perlu menerapkan pola hidup sehat sejak dini untuk menurunkan risiko berbagai penyakit di masa depan.
Batasi UPF, Makanan Berpengawet, dan Pemanis
dr Nur menegaskan bahwa masyarakat harus lebih memperhatikan pola makan sehari-hari. Ia menyarankan agar masyarakat membatasi makanan yang mengandung banyak bahan tambahan seperti pengawet dan pemanis.
Selain itu, masyarakat juga perlu mengurangi konsumsi ultra-processed food (UPF). Jenis makanan ini biasanya melalui proses pengolahan tinggi dan sering mengandung tambahan gula, garam, lemak, serta berbagai zat aditif.
“Kita harus mengurangi makanan yang mengandung pengawet, makanan ultra-processed, dan makanan dengan pemanis,” ujarnya.
Dokter spesialis urologi Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K) juga menegaskan bahwa prinsip pola makan sehat sebenarnya cukup sederhana. Ia menyarankan masyarakat menghindari makanan dengan kandungan gula, lemak, dan garam berlebihan.
“Yang harus dihindari tentu makanan yang membuat tubuh tidak sehat: manis berlebihan, lemak berlebihan, dan asin berlebihan. Prinsipnya sebenarnya sesederhana itu,” ujarnya.
Batas Aman Konsumsi Gula dan Garam
Membatasi makanan manis, asin, dan berlemak menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan tubuh.
Menurut pedoman World Health Organization (WHO), orang dewasa sebaiknya membatasi konsumsi gula tambahan hingga maksimal 10 persen dari total asupan energi harian atau sekitar 50 gram (±4 sendok makan) per hari.
Bahkan, WHO menyarankan batas yang lebih rendah, yaitu sekitar 5 persen atau sekitar 25 gram per hari, untuk manfaat kesehatan yang lebih optimal.
Sementara itu, masyarakat sebaiknya membatasi konsumsi garam tidak lebih dari 5 gram per hari atau sekitar satu sendok teh. Pedoman ini menganjurkan konsumsi maksimal gula 50 gram, garam 5 gram, dan lemak 67 gram per hari.
Dengan membatasi asupan gula, garam, dan lemak, masyarakat dapat mengurangi berbagai faktor risiko penyakit sekaligus menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Tidak Semua Makanan Olahan Termasuk UPF
Meski sering dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, tidak semua makanan olahan termasuk dalam kategori ultra-processed food (UPF).
dr M Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami komposisi makanan sebelum menilai apakah suatu produk termasuk UPF atau tidak.
“Tidak semua makanan yang diproses langsung masuk kategori ultra-processed food. Namun, UPF memang sering dikaitkan dengan peningkatan berat badan yang signifikan dan berbagai penyakit hingga kanker,” jelasnya.
Sementara itu, dr Dion Haryadi, PN1, CHC, AIFO-K menyebutkan bahwa masyarakat tidak perlu sepenuhnya menghindari UPF. Ia menilai yang lebih penting adalah mengatur frekuensi konsumsi dan tetap memprioritaskan makanan alami.
“Saya tetap mengonsumsi UPF di rumah, termasuk untuk anak-anak. Namun saya tidak mengonsumsinya setiap hari karena saya tahu ada konsekuensinya,” ujarnya.
Ia juga menyarankan masyarakat untuk lebih sering memilih whole foods atau makanan yang minim proses karena komposisinya lebih jelas.
“Bukan berarti UPF sepenuhnya buruk sehingga kita tidak boleh memakannya sama sekali. Yang penting adalah bagaimana kita mengelola konsumsi dan lebih bijak dalam memilih makanan,” pungkasnya.
(VVR*)














