Apa itu food noise?
Jakarta, iNBrita.com — Pernah merasa sudah kenyang, tetapi pikiran masih terus “berisik” soal makanan? Misalnya, tiba-tiba ingin membuka aplikasi pesan makanan. Lalu tanpa sadar kamu scroll video kuliner. Bahkan, kamu bisa memikirkan makan malam padahal baru saja selesai makan.
Fenomena ini disebut “food noise” atau “kebisingan makanan”. Menurut Harvard Health (2025), food noise adalah kondisi ketika seseorang terus memikirkan makanan yang sebenarnya tidak diinginkan. Kondisi ini bisa mengganggu secara mental, sosial, maupun fisik.
Penyebab food noise menurut ahli
Dokter spesialis gizi klinik dr. Iflan Nauval, M.ScIH, SpGK, Subsp.KM, SpKKLP, AIFO-K menjelaskan bahwa food noise sering terjadi pada orang dengan obesitas. Kondisi ini juga sering muncul saat seseorang sedang diet.
Namun, ia menegaskan bahwa masalah ini tidak hanya soal disiplin.
“Banyak orang dengan obesitas sudah berusaha keras. Tetapi mereka tetap kesulitan. Tantangannya bukan hanya kemauan, melainkan juga faktor biologis tubuh.
Peran otak dan dopamin
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa otak punya peran besar dalam food noise. Sistem dopamin mengatur rasa senang dan dorongan makan.
“Nah, dopamin ini perlu dikendalikan. Jika bisa diatur, maka food noise juga bisa berkurang. Akhirnya, tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,” katanya.
Pengaruh lingkungan dan media
Di sisi lain, paparan makanan dari media sosial juga bisa memicu food noise. Gambar dan video makanan dapat memunculkan keinginan makan, meskipun tubuh sudah kenyang.
Selain itu, aroma makanan juga memperkuat dorongan tersebut.
“Melihat makanan di layar saja bisa memicu keinginan makan. Apalagi jika ada aroma, efeknya jadi lebih kuat. Ini juga bagian dari strategi pemasaran,” ujarnya.
Pendekatan medis untuk mengurangi food noise
Sebagai tambahan, dunia medis kini mengembangkan terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA). Terapi ini bekerja pada sistem otak yang mengatur lapar dan kenyang.
Terapi ini membantu menurunkan rasa lapar. Selain itu, terapi juga mengurangi keinginan makan. Rasa kenyang pun meningkat secara klinis.
Food noise bukan sekadar lapar mata. Kondisi ini muncul dari gabungan faktor otak, hormon, dan lingkungan. Semua faktor itu saling memengaruhi perilaku makan seseorang.
(eny)









